Biodiversty Dilestarikan, Kampusku Heterogen

Kampus ITS, ITS Online - Latar belakang teknik pun tidak membuat ITS lupa untuk berkontribusi dalam menyeimbangkan alam. Beberapa kegiatan dihelat yang merujuk kepada biodiversitas (keanekaragaman hayati, red) di kawasan kampus



Kampus ITS, ITS Online - Latar belakang teknik pun tidak membuat ITS lupa untuk berkontribusi dalam menyeimbangkan alam. Beberapa kegiatan dihelat yang merujuk kepada biodiversitas (keanekaragaman hayati, red) di kawasan Kampus ITS tercinta mampu menjadi bukti. Contohnya, pada pelaksanaan Gugur Gunung, ribuan pohon telah ditanam secara massal. Ratusan burung pun dibebaskan agar dapat terbang di atas dataran bekas rawa ini. Sehingga ada kepadatan populasi yang beragam jenis untuk saling melengkapi kebutuhan ekosistem kampus. Selanjutnya, usaha yang dilakukan oleh Jurusan Biologi patut diacungi jempol. Kelompok Studi Burung Liar (KSBL) Pecuk ITS mempunyai kumpulan data tentang burung yang berjumlah ratusan. Bahkan, komunitas ini menggelar kompetisi umum se-Indonesia yang bernama Water Bird Watching Race (WBWR) 2012 untuk membantu pengumpulan data tersebut. Tidak hanya itu, jurusan yang identik dengan warna kuning itu tengah menyusun buku tentang biodiversitas. Rencananya, buku ini akan di-launching saat perayaan Dies Natalis ke-52 nanti. Secara serius, mereka memulai penyusunan buku yang akan diproduksi sebanyak empat jilid itu dengan pengumpulan data. Dari data yang mereka dapatkan, ITS memiliki sekitar 79 spesies burung air maupun bukan burung air. Dari beberapa jenis tersebut, ada yang termasuk ke dalam spesies yang dilindungi. Seperti Kuntul Kecil, Cekakak Australia, Cekakak Sungai, Kuntul Kerbau, Burung Madu, Kipasan Belang, Cangak Besar, dan Blekok Sawah. Bahkan, di kampus ini, ditemukan satu spesies yang statusnya terancam punah di dunia, yaitu Bubut Jawa (Centropus Nigrorufus). Status keterancaman itu disebutkan oleh International Union for the Conservation of Nature (IUCN) Red list 2007. Sedangkan dari jenis tumubuhan, dilakukan pengelompokkan. Apa saja bisa dijadikan obat, insektisida, ataupun beracun. Jenis lain yang menarik perhatian adalah insect (serangga, red). Menurut data rekap (31/5), serangga yang bersayap sisik (lepidoptera) seperti kupu-kupu dan ngengat berjumlah 89 spesies. Sedangkan serangga yang termasuk ke dalam ordo odonata seperti capung berjumlah 24 spesies. Populasi lain seperti musang, luwak, biawak, ikan, kucing yang berjumlah ratusan, dan yang lainnya juga menjadi bukti hijaunya kampus ITS. Itu belum termasuk hewan dan tumbuhan yang masih mungkin ditemukan lagi. Tidak puas sampai di situ, Jurusan Biologi juga tengah membuat software yang berisi tentang flora dan fauna. Tinggal klik, jenis yang diinginkan dapat diamati profilnya. Keanekaragaman hayati di ITS, tidak hanya bermanfaat bagi flora dan fauna saja. Beberapa sivitas pun juga merasakan manfaatnya. Bahkan, masyarakat sekitar juga mengambil berkah tersebut. Buktinya, tidak sedikit masyarakat sekitar yang memancing maupun mencari ikan di sekitar kali maupun danau ITS. Pelanggar Biodiversitas ITS ITS tidak hanya mengadakan, tapi juga menjaga. Ketika kampus ITS dilabelkan sebagai tempat konservasi burung, maka ketika ada yang melanggar larangan untuk menembak pun diberikan tindakan. Salah satunya seperti apa yang diberitakan media online ITS pada Selasa (12/6) lalu, yakni tertangkapnya penembak burung di Kampus Perjuangan. Bukan untuk pertama kali kejadian tersebut tercatat. Sebelumnya, sempat ada peristiwa serupa, namun sayang pelakunya tidak sempat tertangkap. Jika pelanggaran ini dibiarkan, usaha untuk menjaga keanekaragaman hayati terasa sia-sia. Oleh karenanya, bentuk dari pelanggaran tersebut akan ditindak secara khusus oleh Satuan Keamanan Kampus (SKK). Namun demikian, bukan berarti tindak lanjut dari pelanggaran hanya menjadi tanggung jawab pihak SKK. Tentunya, kedewasaan sikap dari sivitas akademika ITS juga sangat diperlukan. Dan memang, ilmu akan tetap menjadi teori belaka jika hanya tersusun rapi dalam catatan kuliah. Biarkanlah ilmu yang didapatkan mahasiswa dari duduk manis di bangku kuliah diamalkan sehingga terasa manfaatnya. Bukankah mahasiswa adalah agent of change, moral force, iron stock, dan social control? Maka, identitas mahasiswa teknik tidak bisa dikaburkan. Mahasiswa teknik bukan berarti terus-menerus menggunakan teknologi sehingga alam menjadi rusak karenanya. Justru dengan ilmu tekniknya, ia bisa membuat inovasi teknologi yang ramah lingkungan. Aplikasi bisa saja dimulai dari  skala kecil dengan penerapan di kampus yang bisa berdampak bagi kehidupan masyarakat luas. Pada awalnya alam ini seimbang. Manusialah yang banyak memamanfaatkan. Mari merubah dunia, minimal dengan manjaga keanekaragaman hayati di kampus sendiri. Ayo bersama membangun kesejahteraan makhluk-makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa ! Tim Redaksi ITS Online